freshnel

Pengalaman Naik Kereta Cepat Haramain

Malam itu (Kamis, 9 Januari 2020) udara di kota Madinah terasa begitu dingin. Maklum, medio bulan Desember hingga Februari memang puncaknya musim dingin di Saudi. Saat itu saya baru saja melepas rombongan trip Dadakan 1 Januari 2020 yang akan pulang ke Indonesia. Rombongan ini memang dijadwalkan pulang ke tanah air melalui kota Madinah, tepatnya di Bandara Internasional Amir Muhammad ibn Abdul Aziz. Kamipun melepas kebersamaan satu sama lain; berharap suatu saat bisa berkumpul lagi di suatu tempat. Walah, malah jadi kangen. Hehe.

Lanjut ke cerita, deh, hihi. Jadi malam itu seusai melepas rombongan, lantas saya menerima sebuah panggilan telepon. Ternyata dari Pak Agung, jamaah dari trip tanggal 6 Januari yang akan bertolak ke Makkah esok hari.

Saat itu memang saya diamanahi untuk membersamai Pak Agung dan istrinya, Bu Deny, untuk melakukan perjalanan dari kota Madinah ke Makkah.  Mereka berdua secara khusus mendapatkan paket spesial langsung dari Budir, yaitu berangkat ibadah umroh via HHSR (Haramain High Speed Railway) alias Kereta Cepat Haramain. Maka, mau tidak mau memang membutuhkan pendamping yang setidaknya memiliki kemampuan berbahasa Arab yang baik. Apalagi ini merupakan pengalaman pertama bagi mereka berdua

Singkat cerita, malam itu kami langsung arrange jadwal keberangkatannya. Kami harus mengambil jadwal kereta yang paling pagi, yaitu pukul 08.10. Karena kebetulan perjalanan kami dihari Jum’at, jadi kami juga harus mengejar waktu shalat Jum’at di Masjidil Haram, Makkah.

Esok hari pun tiba, pagi-pagi saya meluncur dari asrama IUM (Islamic University of Madinah) – tempat saya menginap – menuju Masjid Nabawi untuk shalat Shubuh. Setelah usai shalat saya menuju ke hotel tempat Pak Agung dan Bu Deny menginap. Setelah memastikan barang bawaan tidak ada yang tertinggal, kami kemudian bergegas mencari taksi dan meluncur ke stasiun. Saat itu Shubuhan di Madinah dilaksanakan pada pukul 06.00 dan selesai sekitar pukul 06.30. Jadi kami betul-betul harus bergegas. Karena paling tidak kami sudah stand by di stasiun 1 jam sebelum keberangkatan.

Sejujurnya ini juga pengalaman pertama saya naik kereta di Saudi. Yang sudah-sudah sih palingan saya naik Saptco (semacam bus antar kota antar provinsi)  untuk moving dari Madinah ke Makkah ataupun sebaliknya. Namun kali ini sedikit berbeda, Alhamdulillah diparingi naik kereta di Saudi gratis. Saya jadi excited juga sebenarnya. Hehe.

\"\"

Ngoprek Sepure Saudi

Akhirnya setelah sekitar 15 menit perjalanan, kami pun tiba di stasiun. Wuih, takjub adalah kata yang menggambarkan impresi awal saya dari stasiun ini. Desain arsitektur bangunannya yang futuristik, ditambah gedungnya yang megah membuat saya berpikir, “Wah, iki ono po ora ning Indonesia”. Berharap suatu saat infrastruktur dan sistem kereta api di Indonesia bisa secanggih ini. Hehe.

Nah, setelah menyelesaikan proses check in kami bergegas menuju ke peron dan mencari gerbong nomor 13 tempat kami duduk. Alhamdulillah, kami masih bisa datang on time meskipun agak kesusu. Lalu kami pun melanjutkan perjalanan. 

Selama perjalanan, saya melihat-lihat seisi kabin. Meskipun saya duduk di gerbong ekonomi, namun fasilitas yang ada sudah seperti kelas bisnis-nya kereta di Indonesia. Interiornya sangat modern dengan meja lipat yang tersedia disetiap seatnya. Selain itu terdapat juga jendela yang lebar disetiap row-nya sehingga kita bisa menikmati pemandangan selama perjalanan. Yaa, meskipun pemandangannya cuma gurun pasir doang, sih. Hehe.

For your information, proyek Kereta Cepat Haramain ini sudah dimulai sejak tahun 2009, lho. Namun proyek yang semestinya ditargetkan bisa beroperasi pada tahun 2012 ini sempat mengalami keterlambatan. Yaitu pada medio tahun 2014-2015 karena masalah pada pendanaan. Lalu mulai resmi dibuka secara komersial sejak 4 Oktober 2018 yang lalu. Proyek ini merupakan hasil dari dua konsorsium yang melibatkan perusahaan-perusahaan dari Saudi, Cina, Spanyol, dan Prancis. Dengan nilai proyek yang mencapai USD 60 miliar (227 triliun), menahbiskan HHSR sebagai proyek kereta api terbesar di Timur Tengah, wow.

Jum’atan di Bawah Terik Matahari

Akhirnya setelah sekitar 2 jam perjalanan, kami pun tiba di kota Makkah Al-Mukarramah. Kami pun bergegas menuju shelter Saptco untuk mengambil bus dengan tujuan Masjidil Haram. Harga tiket busnya cukup murah, hanya 3 riyal saja.

Hari itu kami betul-betul dilarang untuk berleha-leha. Karena benar saja, begitu tiba di Masjidil Haram, kami sudah tidak bisa lagi masuk ke dalam karena waktu sudah menunjukkan pukul 11.00. Akhirnya kami pun mendengarkan khutbah dan mendirikan shalat Jum’at di bawah teriknya matahari Saudi.

Ndak papa panas-panasan, sing penting numpak sepur gratis. Hehe.